DENPASAR, vonisnews.com – Tokoh masyarakat Bali sekaligus praktisi ekonomi dan budaya, Gede Ngurah Ambara Putra, S.H., mendesak pemerintah pusat agar menetapkan Bali sebagai episentrum Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).
Menurutnya, kehadiran pusat finansial internasional tersebut dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas perekonomian Bali sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pariwisata berbiaya rendah.
Di tengah wacana penentuan lokasi PFII antara Jakarta dan Bali, Ngurah Ambara meminta masyarakat Pulau Dewata tidak larut dalam keraguan. Ia menilai gagasan tersebut perlu dikaji sebagai peluang strategis untuk mendorong Bali masuk ke dalam ekosistem ekonomi global.
Dalam keterangannya di Denpasar, Minggu (11/10/2026), Ngurah Ambara menyebut inisiatif PFII sebagai langkah yang menurutnya menunjukkan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap masa depan ekonomi Bali.
“Masyarakat Bali jangan lagi ragu-ragu. Inisiatif PFII ini langsung dari Bapak Presiden Prabowo. Ini menunjukkan perhatian beliau terhadap masa depan krama Bali,” ujarnya.
Ia menilai Bali selama ini menghadapi tekanan terhadap tata ruang, penyusutan lahan pertanian akibat pembangunan, serta kemacetan yang semakin menjadi persoalan. Namun, menurutnya, perkembangan pariwisata belum sepenuhnya memberikan dampak ekonomi yang sebanding bagi daerah.
Ngurah Ambara bahkan melontarkan kritik tajam terhadap fenomena wisatawan beranggaran rendah yang, menurut pandangannya, belum memberikan kontribusi ekonomi optimal bagi Bali.
“Bali dibanjiri turis low-budget yang ikut antre beli mi instan dan menawar sayur cantok di warung banjar. Mereka memakai jalan raya kita, menikmati fasilitas yang tersedia, tetapi kontribusi ekonominya perlu menjadi perhatian serius,” katanya.
Ia menegaskan, kritik tersebut bukan semata-mata soal besarnya anggaran wisatawan, melainkan tentang bagaimana pariwisata mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal, meningkatkan pendapatan daerah, serta menjaga keberlanjutan lingkungan dan budaya Bali.
PFII Dinilai Bisa Membuka Akses Ekonomi Global
Ngurah Ambara berpandangan, pengembangan PFII dengan ekosistem wealth management dan family office berpotensi menarik pengelolaan kekayaan, investasi, serta aktivitas keuangan internasional ke Indonesia.
Menurutnya, Bali memiliki peluang untuk mengembangkan model ekonomi yang tidak hanya bergantung pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga mampu menarik aktivitas ekonomi bernilai tambah tinggi.
Meski demikian, ia menilai pengembangan pusat finansial internasional perlu disertai kajian yang matang, kepastian hukum, tata kelola yang transparan, serta perlindungan terhadap kepentingan masyarakat lokal.
“Pusat harus mempertimbangkan mengapa Malaysia mengembangkan hub finansial offshore di Pulau Labuan, bukan di Kuala Lumpur. India juga mengembangkan GIFT City di Gujarat sebagai pusat keuangan khusus,” jelasnya.
Ia menilai pengalaman negara lain tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia dalam menentukan lokasi dan model pengembangan PFII.
Menurut Ngurah Ambara, Indonesia membutuhkan ekosistem keuangan internasional yang mampu mendukung perdagangan global, pengelolaan investasi, dan pemanfaatan potensi sumber daya nasional.
Jakarta Pusat Ekonomi Nasional, Bali Hub Internasional Dalam pandangannya, pembagian peran antara Jakarta dan Bali dapat menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan pemerintah pusat.
“Biarlah Jakarta menjadi pusat ekonomi onshore nasional, dan Bali menjadi hub offshore internasional. Konsep dual-hub ini berpotensi memberikan manfaat bagi perekonomian nasional sekaligus membuka peluang pemerataan pembangunan,” tambahnya.
Namun, penetapan Bali sebagai pusat finansial internasional, menurutnya, harus dibarengi perencanaan yang terukur agar tidak menambah tekanan terhadap lingkungan, infrastruktur, dan ruang hidup masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya regulasi yang ketat untuk memastikan investasi memberikan manfaat nyata bagi daerah, termasuk melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal, serta perlindungan terhadap lahan produktif dan kebudayaan Bali.
Yowana Bali Diminta Siapkan Kompetensi Global
Menutup pernyataannya, Ngurah Ambara mengajak pemerintah daerah dan generasi muda Bali mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan berkembangnya ekosistem ekonomi finansial internasional.
Ia meminta pemerintah daerah memperkuat aturan tata ruang, perlindungan tenaga kerja, dan pengawasan investasi. Sementara itu, generasi muda Bali atau yowana didorong meningkatkan kemampuan bahasa asing, kompetensi profesional, serta sertifikasi berstandar internasional.
“Pusat sudah memberikan niat baik, sekarang tugas pemerintah daerah membuat aturan tata ruang dan perlindungan tenaga kerja yang ketat.
Untuk Yowana Bali, kejar sertifikasi global dari sekarang. Kita rebut peluang ekonomi ini untuk menjaga kedaulatan budaya di rumah sendiri,” pungkasnya.
Desakan Ngurah Ambara tersebut menambah perspektif dalam pembahasan lokasi PFII. Di satu sisi, pusat finansial internasional berpotensi membuka akses investasi dan aktivitas ekonomi baru.
Di sisi lain, penetapan Bali sebagai episentrum membutuhkan perhitungan menyeluruh mengenai kesiapan infrastruktur, kepastian regulasi, dampak lingkungan, serta distribusi manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
(Budi)
















