BULELENG, vonisnews.com – Upacara Metatah Massal yang digelar bertepatan dengan Hari Raya Tumpek Wayang, Sabtu (10/10/2026), menjadi momentum pelestarian adat dan edukasi spiritual bagi generasi muda Hindu Bali. Dalam kegiatan yang dipusatkan di Griya Padukuhan Batu Mekencuh, Desa Adat Bangkah, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Anggota DPR RI Dapil Bali dari Fraksi Partai Demokrat, Tutik Kusuma Wardhani, SE., MM., M.Kes., menyerahkan bantuan berupa 106 stel pakaian seragam metatah bagi peserta laki-laki dan perempuan.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pengurus Pasemetonan Sri Karang Buncing (P2SKB) Kabupaten Buleleng tersebut diikuti 106 peserta dari berbagai dadia Pasemetonan Sri Karang Buncing se-Kabupaten Buleleng.
Kehadiran Tutik Kusuma Wardhani menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian tradisi adat dan keagamaan, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan masyarakat dalam menjalankan ritual keagamaan Hindu.
Sebagai bagian dari keluarga besar Sri Karang Buncing, Tutik menilai pelaksanaan Metatah Massal memiliki manfaat penting, tidak hanya dari sisi spiritual, tetapi juga sosial dan ekonomi.
Menurutnya, penyelenggaraan upacara secara bersama-sama dapat meringankan beban finansial keluarga peserta. Melalui semangat gotong royong, biaya upakara dapat ditekan sehingga masyarakat dari berbagai latar belakang ekonomi memiliki kesempatan untuk melaksanakan kewajiban adat dan keagamaan dengan lebih ringan.
“Tradisi gotong royong metatah massal ini sangat membantu meringankan biaya warga, dan di sisi lain adat serta tradisi luhur tetap bisa kita lestarikan bersama,” ujarnya.
Tutik juga menegaskan bahwa upacara Metatah Massal menjadi sarana edukasi spiritual bagi generasi muda untuk memahami nilai-nilai luhur dalam ajaran Hindu Bali.
Salah satu nilai penting yang ditekankan adalah pengendalian Sad Ripu, yakni enam sifat atau musuh dalam diri manusia yang perlu dikendalikan agar seseorang mampu menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.
Melalui pelaksanaan ritual adat secara bersama-sama, generasi muda diharapkan semakin memahami makna upacara, memperkuat karakter spiritual, serta tetap berpegang teguh pada akar budaya dan tradisi Hindu Bali.
Ia juga berpesan agar seluruh krama Pasemetonan Sri Karang Buncing terus mempererat tali persaudaraan. Menurutnya, kegiatan keagamaan bersama dapat menjadi wadah untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, kepedulian, dan sikap saling membantu di tengah masyarakat.
Tutik berharap tradisi Metatah Massal dapat terus diagendakan secara konsisten oleh pengurus P2SKB Kabupaten Buleleng agar warisan leluhur tetap terjaga dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Pertama Kali Digelar Terpusat oleh P2SKB Buleleng
Ketua Pengurus Pasemetonan Sri Karang Buncing Kabupaten Buleleng, Gede Komang, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut menjadi pelaksanaan Metatah Massal pertama yang diselenggarakan secara terpusat dan terorganisasi oleh pengurus tingkat kabupaten.
Menurutnya, antusiasme warga sangat tinggi. Keberhasilan kegiatan tidak terlepas dari partisipasi aktif krama yang bergotong royong sejak tahap persiapan hingga puncak upacara.
“Ini adalah tonggak sejarah baru bagi Pasemetonan Sri Karang Buncing di Buleleng. Kegiatan metatah massal ini baru pertama kali kita selenggarakan secara terorganisir oleh pengurus kabupaten, dan respons warga sangat luar biasa. Semua bergerak bergotong royong, ada yang ngayah, ada yang ber-punia kopi, gula, konsumsi, hingga pakaian seragam dari Ibu Tutik Kusuma Wardhani,” jelas Gede Komang.
Ia menambahkan, warga turut memberikan punia berupa berbagai kebutuhan logistik, mulai dari kue, kopi, gula, air mineral, konsumsi, hingga dukungan dana untuk menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan.
Semangat ngayah dan punia tersebut menjadi cerminan kuatnya ikatan persaudaraan dalam Pasemetonan Sri Karang Buncing. Seluruh elemen masyarakat mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing demi kelancaran pelaksanaan upacara.
Gede Komang berharap Metatah Massal dapat menjadi agenda rutin sebagai bentuk sradha bakti kepada leluhur sekaligus sarana memperkuat persatuan dan persaudaraan antaranggota pasemetonan.
Rangkaian upacara Metatah Massal dipuput oleh dua sulinggih, yakni Ida Dukuh Celagi Daksa Dharma Kirthi dan Ida Dukuh Karang Sila Samyoga. Pelaksanaan ritual juga dibantu sejumlah pemangku dari Pasemetonan Sri Karang Buncing dan Griya Padukuhan Batu Mekencuh.
Melalui kegiatan ini, masyarakat berharap nilai-nilai spiritual, tradisi adat, dan semangat gotong royong dapat terus diwariskan kepada generasi muda.
Bantuan 106 stel pakaian dari Tutik Kusuma Wardhani serta keterlibatan aktif krama menjadi bagian dari upaya bersama menjaga keberlangsungan tradisi leluhur. Metatah Massal pun tidak hanya menjadi pelaksanaan ritual keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat solidaritas sosial dan identitas budaya Hindu Bali di Kabupaten Buleleng.
(Budi)
















