Example floating
Example floating
banner 1000x130
Berita

Pameran “Udhar Banda Karma” Hadirkan 38 Karya, Tradisi Bali Berdialog dengan Modernitas

admin
12
×

Pameran “Udhar Banda Karma” Hadirkan 38 Karya, Tradisi Bali Berdialog dengan Modernitas

Sebarkan artikel ini
Img 20260918 Wa0003
banner 1000x130

Denpasar – vonisnews.com –  Himpunan Perupa Payangan menggelar pameran seni rupa kolektif bertajuk “Udhar Banda Karma: Unblocking the Karma of Tradition” di Santrian Art Gallery, Sanur, Denpasar, jumat (18/9/2026).Pameran ini menampilkan 38 karya terbaik dari para anggota, mulai dari lukisan tradisi klasik, hibrida modern, abstrak ekspresif, hingga karya patung tiga dimensi.

Pameran ini merupakan lompatan penting bagi komunitas perupa asal Payangan, Gianyar. Jika pada pameran sebelumnya di Monkey Forest Ubud pada Mei 2026 lalu Himpunan Perupa Payangan fokus pada laku ke dalam melalui filosofi Tri Sakti Bayu-Idep-Karma (Energi-Pikiran-Kreativitas), maka pameran kali ini adalah sebuah lompatan keluar yang berani.

banner 1000x130

Perjalanan dari pedalaman Payangan yang sejuk menuju pesisir Sanur bukan sekadar perpindahan geografis dari Kabupaten Gianyar ke Kota Denpasar, melainkan sebuah perpindahan epistemik dan ziarah kultural dari pusat pakem tradisi menuju ruang dialog seni rupa global yang lebih cair.

Kurator pameran, Dr. I Nyoman Suardina menjelaskan makna tema yang diusung. Secara etimologis dalam bahasa Jawa Kuno, Udhar berarti mengurai atau melepas ikatan, Banda adalah belenggu, dan Karma adalah hasil tindakan masa lalu.

“Bagi perupa Payangan yang tumbuh dalam ekosistem lukisan tradisional Bali, tradisi adalah Karma, sebuah warisan mulia yang membentuk identitas kolektif. Namun, tradisi yang diadopsi mentah tanpa pemaknaan baru terancam menjadi Banda yang memenjarakan subjektivitas, “ujarnya.

Melalui laku Udhar Banda Karma, para perupa tidak membuang akar tradisi, melainkan melonggarkan ikatan pakem agar karya memiliki ruang bernapas bagi eksperimen baru. Mengutip filsuf Giorgio Agamben, pameran ini adalah upaya mengambil jarak kritis untuk menjadi seniman yang benar-benar kontemporer, sekaligus membebaskan diri dari ekspektasi pasar yang menuntut seni Bali selalu tampil statis dan eksotis.

Pameran ini menampilkan empat tipologi kreativitas, Penjaga nyala api tradisi, yang tetap setia pada presisi teknik klasik namun dengan pemikiran yang terbuka. Perkawinan tradisi dan modernitas, karya hibrida yang mendialogkan wayang dan lanskap mistis dengan komposisi modern. Pelepasan menuju dunia abstrak, karya yang sepenuhnya menanggalkan figur menjadi ledakan warna dan energi murni.Dinamika seni patung, yang menampilkan pembaruan bentuk kayu dan batu melampaui figur mitologi kaku.

Ketua Himpunan Perupa Payangan, I Made Dolar Astawa menyampaikan pameran ini adalah momentum untuk mendobrak batas geografis demi masa depan seni rupa yang lebih terbuka. Mewakili seluruh anggota, ia menghaturkan terima kasih kepada Bupati Gianyar yang telah memberikan dukungan moril dan kepada manajemen Santrian Art Gallery atas ruang dan kesempatan di pesisir Sanur.

Sementara itu, Owner Santrian Art Gallery, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, MBA menyambut baik kolaborasi ini. Ia menyebut Sanur secara historis adalah ruang hibriditas tempat seniman Barat dan Timur saling meminjam estetika. Ia melihat pameran ini sebagai dialog kritis yang matang tentang bagaimana merawat tradisi bukan dengan memenjarakan diri, melainkan membiarkannya tumbuh dan relevan dengan zaman.

Pameran “Udhar Banda Karma” diharapkan dapat memperkuat jejaring seni rupa Bali dan membawa karma baik bagi semua pihak.(tik)

banner 1000x130 banner 1000x130
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *