Example floating
Example floating
banner 1000x130
Berita

ASITA Bali Dorong Konektivitas Bali-Jogja, Bidik Pasar Asia Tengah

admin
9
×

ASITA Bali Dorong Konektivitas Bali-Jogja, Bidik Pasar Asia Tengah

Sebarkan artikel ini
Img 20261008 Wa0073(1)
banner 1000x130

DENPASAR, vonisnews.com — Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali mendorong penguatan konektivitas udara dan kolaborasi paket wisata antara Bali dan Yogyakarta sebagai strategi membuka pasar baru pariwisata Indonesia, khususnya dari kawasan Asia Tengah.

Ketua ASITA Bali, I Putu Winastra, S.AB., M.A.P., mengatakan Bali dan Yogyakarta memiliki karakter pariwisata yang berbeda, namun saling melengkapi. Bali dikenal kuat dengan wisata alam, bahari, budaya, wellness, dan lifestyle. Sementara Yogyakarta memiliki keunggulan pada sektor sejarah, heritage, seni, dan tradisi.

banner 1000x130

Hal tersebut disampaikan Winastra dalam Jogja and Beyond Table Top on Bali yang digelar di Bali Dynasty Resort, Rabu (7/10/2026). Forum tersebut mempertemukan pelaku industri pariwisata Bali dan Yogyakarta untuk membuka peluang bisnis sekaligus memperluas pasar wisatawan.

Menurut Winastra, kondisi pariwisata Bali saat ini menunjukkan tren positif. Kunjungan wisatawan mancanegara telah mencapai sekitar 7,05 juta, sedangkan perjalanan wisatawan domestik telah menembus lebih dari 9 juta perjalanan.

Namun, pertumbuhan jumlah wisatawan tersebut dinilai perlu diikuti strategi untuk meningkatkan lama tinggal serta nilai ekonomi yang dihasilkan wisatawan bagi masyarakat lokal.

“Bali dan Yogyakarta memiliki kekuatan yang saling melengkapi. Kolaborasi kedua destinasi perlu diarahkan pada pembukaan pasar baru, penguatan konektivitas dan penciptaan paket wisata lintas destinasi,” kata Winastra.

Ia menilai kawasan Asia Tengah, khususnya Kazakhstan dan Uzbekistan, memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pasar baru pariwisata Indonesia.

Kazakhstan yang memiliki populasi sekitar 20 juta jiwa dinilai berpeluang menjadi pasar potensial bagi Bali. Namun, jumlah wisatawan dari kawasan tersebut yang berkunjung ke Bali masih relatif kecil.

Salah satu tantangan utama adalah konektivitas penerbangan. Wisatawan dari kawasan Asia Tengah belum memiliki akses penerbangan langsung yang mudah menuju Bali sehingga harus melakukan transit dan bahkan menginap terlebih dahulu di negara lain.

“Mereka tidak langsung bisa ke Bali. Jadi mereka harus stay overnight. Itu yang menjadi challenge,” ujar Winastra.

Karena itu, peningkatan konektivitas penerbangan dari Asia Tengah menuju Bali dinilai menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan pasar wisatawan baru.

Winastra menyebut upaya tersebut tengah didorong melalui berbagai jejaring, termasuk dalam kapasitasnya sebagai konsul kehormatan.

“Karena saya ditunjuk sebagai konsul kehormatan, jadi kami sedang mencoba untuk membuat connectivity sehingga wisatawan…” ujarnya.

Selain membuka akses pasar baru, Winastra menilai Bali dan Yogyakarta dapat dipasarkan sebagai satu rangkaian perjalanan wisata.

Wisatawan yang datang ke Indonesia tidak harus hanya mengunjungi satu destinasi. Mereka dapat menikmati Bali selama beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta, maupun sebaliknya.

Konsep perjalanan lintas destinasi tersebut diyakini dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus memperluas distribusi manfaat ekonomi pariwisata kepada masyarakat.

Kerja sama dapat dikembangkan melalui joint promotion, business matching, paket wisata bersama hingga penyelenggaraan event lintas destinasi.

Menurut Winastra, forum table top menjadi salah satu ruang penting untuk mempertemukan buyer dan seller. Pertemuan bisnis tersebut diharapkan tidak berhenti pada networking, tetapi berkembang menjadi transaksi dan kerja sama jangka panjang.

Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan pariwisata tidak cukup hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan.

Aspek kualitas wisatawan, lama tinggal, pengalaman yang diperoleh serta besarnya kontribusi ekonomi terhadap masyarakat juga perlu menjadi perhatian.

“Quality tourism dan sustainable tourism menjadi semakin penting,” ujarnya.

Pertumbuhan pariwisata, lanjut dia, harus berjalan beriringan dengan keberlanjutan lingkungan, pelestarian budaya serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dengan posisi Bali yang telah kuat di pasar pariwisata internasional dan Yogyakarta yang memiliki kekuatan pada sejarah, budaya serta heritage, kolaborasi kedua destinasi dinilai memiliki peluang besar untuk memperluas pasar pariwisata Indonesia.

Melalui kerja sama tersebut, wisatawan diharapkan tidak hanya datang ke Indonesia untuk mengunjungi satu destinasi, tetapi memiliki lebih banyak pilihan perjalanan sekaligus alasan untuk memperpanjang masa tinggal.

Bali dan Yogyakarta pun didorong menjadi dua pintu wisata yang saling terhubung untuk menghadirkan pengalaman pariwisata Indonesia yang lebih panjang, beragam, berkualitas, dan berkelanjutan.

(Budi)

banner 1000x130 banner 1000x130
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *