Denpasar, Vonisnews.com – Perkumpulan Pemilik Izin Khusus Senjata Api Bela Diri Indonesia (Periksha) sukses menggelar Latihan Asah Keterampilan Periksha 2025 pada Jumat–Sabtu, 25–26 Juli 2025 di Bali. Acara ini diikuti sekitar 100 pemilik senjata api bela diri (IKSHA) dari 17 provinsi di Indonesia.
Kegiatan dimulai dengan sesi welcome dinner di Black Stone Yacht Club Kafe, Pelabuhan Benoa pada Jumat (25/7), lalu dilanjutkan latihan utama di Lapangan Tembak Tohpati, Denpasar pada Sabtu (26/7). Latihan tahun ini dirancang lebih realistis dengan simulasi tiga dimensi, menghadirkan situasi nyata seperti perampokan, begal ATM, hingga penodongan.
Ketua DPP Periksha, Bambang Soesatyo alias Bamsoet, mengapresiasi peningkatan kualitas latihan yang dinilai semakin mendekati kondisi nyata. Dalam sambutannya usai melantik pengurus DPD Periksha Yogyakarta dan Jawa Barat, Bamsoet menyatakan, “Kalau yang pertama di Perbakin Jakarta kita buat seada-adanya, sekarang luar biasa dengan tiga dimensi, ada mobil Mercy, Jeep, Harley dan seterusnya.”
Bamsoet menegaskan pentingnya edukasi hukum dalam kepemilikan senjata api. Ia mengingatkan seluruh pemilik IKSHA agar memahami dan mematuhi UU Darurat No. 12 Tahun 1951 serta Perkap Kapolri No. 1 Tahun 2022.
“Kita harus hati-hati. Jangan sampai niat punya senjata untuk membela diri justru membuat kita masuk penjara,” tegasnya.
Bamsoet juga mendorong adanya simposium nasional bersama Intelkam Polri untuk menyamakan persepsi tentang definisi ‘ancaman’ yang membenarkan penggunaan senjata api. Ia bahkan telah menyusun kajian akademik untuk mendorong revisi UU Darurat 1951 agar lebih relevan dengan situasi saat ini.
Ketua Panitia sekaligus Ketua DPD Periksha Bali, Made Muliawan Arya alias De Gadjah, menyampaikan bahwa latihan ini bukan ajang unjuk gaya.
“Ini bukan untuk bergaya koboi di jalanan. Ini tentang tanggung jawab hukum dan penggunaan senjata yang aman, bijak, dan proporsional,” ujar politisi yang juga Ketua DPD Partai Gerindra Bali ini.
De Gadjah juga mengajak pemilik senjata ilegal untuk bergabung dengan Periksha agar mendapatkan legalitas serta pelatihan resmi. Di Bali sendiri, anggota Periksha tercatat sebanyak 50 orang.
Ketua DPD Periksha Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua Panitia, Hadi Susilo, menjelaskan bahwa setiap stage latihan dirancang menyerupai kejadian kriminal nyata. Sekitar 80 persen peserta menggunakan pistol dengan peluru tajam, peluru karet, hingga pistol optik. Latihan juga menghadirkan kategori lady shooter dan penggunaan senjata laras panjang seperti AR15 dan PCC.
“Latihan ini bukan untuk gaya-gayaan. Dipakai hanya dalam kondisi sangat mendesak,” jelas Hadi.
Perancang stage, Kombes Firman, menghadirkan media tiga dimensi agar peserta lebih memahami dinamika situasi di lapangan.
AKBP Gede Pantiasa dari Ditintelkam Polda Bali menegaskan bahwa senjata api bela diri hanya boleh digunakan saat nyawa benar-benar terancam.
“Kalau masih bisa lari, lari dulu. Kalau tidak ada pilihan lain dan nyawa terancam, barulah senjata digunakan,” ujarnya.
Acara ditutup dengan pemberian plakat untuk peserta terbaik, sebagai bentuk apresiasi terhadap kedisiplinan dan kemampuan yang ditunjukkan selama latihan.(Budi)
















