BANYUWANGI, Vonisnews.com – Kelangkaan tabung gas LPG 3 kilogram bersubsidi mulai dikeluhkan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Banyuwangi menjelang dan selama bulan Ramadan. Kondisi tersebut membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan memasak, terutama untuk persiapan sahur dan berbuka puasa.
Menindaklanjuti banyaknya keluhan masyarakat, tim dari LPKNI bersama YBH Pegasus dan sejumlah awak media turun langsung melakukan penelusuran lapangan pada Kamis (12/3/2026).
Dalam kegiatan tersebut, tim melakukan pengecekan di beberapa toko dan pengecer di wilayah Singojuruh dan Gendoh. Dari hasil penelusuran, sejumlah pengecer mengaku sudah hampir satu minggu tidak menerima pasokan LPG 3 kg.
Salah satu pemilik toko mengungkapkan bahwa pengiriman terakhir diterima pada hari Jumat, dan hingga saat ini belum ada pengiriman kembali. Akibatnya, stok LPG 3 kg di tingkat pengecer benar-benar kosong.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait kelancaran distribusi gas bersubsidi yang menjadi kebutuhan utama masyarakat kecil.
Untuk memastikan kondisi di lapangan, tim juga mendatangi lokasi Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) PT Bumi Jaya Mandiri di wilayah Gambor, Banyuwangi. Dari pantauan di lokasi, terlihat sejumlah truk pengangkut LPG 3 kg dalam kondisi telah terisi penuh tabung gas.
Namun, berdasarkan keterangan yang dihimpun di lapangan, terdapat kendaraan pengangkut yang sudah terisi LPG tetapi belum didistribusikan hingga beberapa hari.
Dalam klarifikasi yang disampaikan pihak manajemen SPPBE yang berinisial Alex, disebutkan bahwa kelangkaan LPG 3 kg kerap terjadi setiap tahun menjelang Ramadan karena meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Meski demikian, pernyataan tersebut justru menimbulkan pertanyaan dari tim investigasi. Pasalnya, jika kondisi ini sudah menjadi kejadian rutin setiap tahun, seharusnya pihak terkait dapat melakukan langkah antisipasi agar kelangkaan tidak sampai terjadi di tengah masyarakat.
Tim juga menyoroti adanya dugaan kurangnya transparansi dalam proses distribusi LPG 3 kg. Hal ini terlihat ketika di lapangan ditemukan kendaraan pengangkut yang sudah terisi penuh namun belum segera didistribusikan, sementara masyarakat di tingkat pengecer justru mengalami kekosongan stok.
Atas kondisi tersebut, LPKNI bersama YBH Pegasus dan media meminta penjelasan resmi dari pihak Pertamina terkait mekanisme distribusi LPG bersubsidi di wilayah Banyuwangi.
Selain itu, LPKNI juga mendesak sejumlah langkah perbaikan, di antaranya agar distribusi LPG 3 kg segera dinormalisasi sehingga masyarakat tidak terus mengalami kesulitan, pengawasan distribusi diperketat guna mencegah kemungkinan penimbunan atau permainan distribusi di lapangan, serta meningkatkan transparansi dalam sistem distribusi LPG bersubsidi.
Sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial, LPKNI, YBH Pegasus dan media menyatakan akan terus melakukan pemantauan terhadap distribusi LPG 3 kg di Banyuwangi.
“Kami tidak ingin masyarakat kecil menjadi korban akibat kelangkaan LPG bersubsidi, apalagi di bulan Ramadan. Jika setiap tahun terjadi, seharusnya ada langkah antisipasi. Jangan sampai distribusi terkesan tidak transparan sementara masyarakat kesulitan mendapatkan gas,” tegas perwakilan tim investigasi.
LPKNI dan YBH Pegasus juga membuka kemungkinan untuk menyampaikan laporan resmi kepada pihak terkait apabila dalam pemantauan selanjutnya ditemukan indikasi pelanggaran dalam distribusi LPG bersubsidi.
(Yuda)
















