Example floating
Example floating
banner 1000x130
Berita

Pameran “ART FOR FREEDOM” di Surabaya, Suara Seniman atas Pengosongan Ruang Kreatif Balai Pemuda

admin
91
×

Pameran “ART FOR FREEDOM” di Surabaya, Suara Seniman atas Pengosongan Ruang Kreatif Balai Pemuda

Sebarkan artikel ini
Img 20260401 Wa0178
banner 1000x130

SURABAYA, Vonisnews.com – Komunitas seniman yang tergabung dalam Aksi Seniman Surabaya (ASSU) menggelar pameran seni rupa bertajuk “ART FOR FREEDOM” sebagai bentuk respons atas kebijakan pengosongan sejumlah ruang kreatif di kawasan Balai Pemuda.

Pameran yang berlangsung pada 1 hingga 8 April 2026 di Galeri Merah Putih ini tidak sekadar menjadi ajang artistik, melainkan juga representasi sikap kolektif para seniman dalam menyikapi kebijakan Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar).

banner 1000x130

Ketua ASSU, Muit Arsa, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan bentuk perlawanan, melainkan upaya membangun komunikasi yang sehat antara pelaku seni dan pemerintah.

“Melalui ‘ART FOR FREEDOM’ kami berharap dapat membangun dialog yang konstruktif dan menemukan langkah bersama untuk menciptakan ekosistem kesenian yang lebih kuat dan inklusif bagi Kota Surabaya tercinta,” ujarnya.

Pameran ini melibatkan 38 seniman dari berbagai latar belakang dengan ragam aliran seni lukis. Setiap karya yang ditampilkan menjadi simbol kebebasan berekspresi sekaligus refleksi atas kegelisahan seniman terhadap kondisi ruang kreatif yang kini terancam hilang.

Bagi para seniman, ruang seperti Balai Pemuda bukan hanya sekadar bangunan fisik, tetapi merupakan ruang hidup yang melahirkan gagasan, interaksi, hingga perkembangan seni budaya lokal.

Dalam narasi pembukaan pameran, Muit Arsa menegaskan pentingnya keberadaan ruang seni sebagai bagian dari identitas kota.

“Seni bukan sekadar hiasan kota. Ia adalah jiwa kota kita. Jika ruangnya hilang, maka yang memudar bukan hanya warna, tetapi juga rasa,” tegasnya.

Di tengah berlangsungnya pameran, penolakan terhadap kebijakan pengosongan ruang juga muncul melalui aksi unjuk rasa dari sejumlah komunitas dan pegiat seni. Mereka turun ke jalan untuk menyuarakan keberatan terhadap kebijakan tersebut.

Kebijakan Disbudporapar diketahui menyasar beberapa ruang yang selama ini menjadi pusat aktivitas komunitas, seperti DKS, Bengkel Muda Surabaya, serta area kantin di kawasan Balai Pemuda.

Para demonstran menilai kebijakan tersebut berpotensi mematikan ekosistem kreatif yang telah tumbuh selama bertahun-tahun. Selain itu, mereka juga menyoroti belum adanya solusi konkret, terutama terkait relokasi atau penyediaan ruang alternatif yang setara.

Dalam orasinya, massa menegaskan bahwa ruang-ruang tersebut memiliki peran strategis dalam pembinaan generasi muda, khususnya dalam bidang seni dan budaya.

Komunitas seniman pun mendesak Pemerintah Kota Surabaya untuk membuka ruang dialog sebelum kebijakan pengosongan diberlakukan sepenuhnya. Mereka berharap pelaku seni dapat dilibatkan secara langsung dalam setiap pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan ruang publik kreatif.

Situasi ini mencerminkan adanya tarik menarik antara kebutuhan penataan kota dengan keberlangsungan ekosistem seni. Meski demikian, para seniman berharap solusi yang diambil tidak mengorbankan ruang tumbuh bagi kreativitas.

Pameran “ART FOR FREEDOM” menjadi penanda bahwa di tengah tekanan kebijakan, suara seni tetap hadir—bukan dengan amarah, melainkan melalui karya yang sarat makna.

(Yuda)

banner 1000x130 banner 1000x130
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *