Example floating
Example floating
banner 1000x130
Pendidikan

Pecah Telur, Poltekkes Kemenkes Denpasar Miliki Profesor Perdana

admin
8
×

Pecah Telur, Poltekkes Kemenkes Denpasar Miliki Profesor Perdana

Sebarkan artikel ini
Img 20260419 Wa0106
banner 1000x130

DENPASAR, Vonisnews.com – Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan kesehatan di Bali. Poltekkes Kemenkes Denpasar akhirnya memiliki Guru Besar atau profesor pertama sejak berdiri sekitar 25 tahun lalu.

Adalah Komang Ayu Henny Achjar yang resmi menyandang gelar akademik tertinggi tersebut. Prof. Henny dikukuhkan bersama lima guru besar lainnya dari berbagai Poltekkes di Indonesia dalam prosesi yang berlangsung di Jakarta pada 5 Maret 2026 oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kementerian Kesehatan.

banner 1000x130

Momentum bersejarah ini menjadi tonggak penting bagi Poltekkes Kemenkes Denpasar dalam meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di bidang kesehatan.

Dalam rangkaian Dies Natalis ke-25 kampus tersebut, Prof. Henny juga menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular: Tantangan Terkini dan Rekomendasi Kebijakan untuk Intervensi Berkelanjutan” pada Sidang Terbuka Senat, Jumat (17/4/2026).

Dalam paparannya, ia menekankan tiga fokus utama dalam penanganan penyakit tidak menular (PTM), yakni pencegahan, deteksi dini, dan pengendalian. Pencegahan dilakukan melalui edukasi dan perubahan perilaku masyarakat untuk mengurangi faktor risiko. Sementara deteksi dini diwujudkan melalui skrining kesehatan secara rutin, dan pengendalian melalui layanan kesehatan yang tepat guna mencegah komplikasi.

Menurut Prof. Henny, diperlukan sinergi kebijakan dari berbagai level pemerintahan hingga komunitas. Ia merekomendasikan agar program penanganan PTM dimasukkan ke dalam regulasi daerah, penguatan peran Puskesmas, sistem rujukan berbasis data, serta optimalisasi peran komunitas lokal.

“Khusus di Bali, ada kearifan lokal yang sangat potensial, yakni budaya banjar. Dari banjar bisa dilakukan berbagai intervensi yang menyasar kelompok masyarakat seperti sekaa teruna-teruni, pecalang, ibu-ibu PKK, hingga warga adat,” ujarnya.

Sebagai akademisi, Prof. Henny memiliki rekam jejak panjang di dunia pendidikan dan kesehatan. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jurusan Keperawatan, Kepala Bidang Keperawatan Komunitas, hingga Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan di Poltekkes Kemenkes Denpasar.

Di tingkat internasional, ia pernah bertugas sebagai pelatih tenaga kesehatan di Port Vila, Vanuatu, serta mengikuti program short course di Gunma University of Health and Welfare, Jepang. Selain itu, ia aktif sebagai pembicara, pembimbing kompetisi, serta reviewer penelitian nasional dan internasional.

Karya ilmiahnya juga telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi Scopus serta jurnal nasional terakreditasi Sinta. Tak hanya itu, ia telah menghasilkan 28 buku ber-ISBN serta berbagai inovasi di bidang kesehatan, seperti Smart Shoes and Sandals (3S) untuk deteksi dini luka diabetes dan One Portable Health & Culture Kit (1PK1H) untuk deteksi dini PTM di tingkat banjar.

Dedikasinya juga terlihat dari perannya sebagai Ketua Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI) Bali periode 2014–2019, yang kemudian dilanjutkan sebagai pembina.

Prof. Henny lahir di Lumajang pada 21 Maret 1966. Ia meraih gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat dari Universitas Airlangga pada 1994. Kemudian melanjutkan Magister Keperawatan dan Spesialis Keperawatan Komunitas hingga Doktor Keperawatan di Universitas Indonesia.

Pencapaian ini menjadi inspirasi bagi tenaga pendidik dan mahasiswa di lingkungan Poltekkes, sekaligus memperkuat kontribusi institusi dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

(Budi)

banner 1000x130 banner 1000x130
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *