Example floating
Example floating
banner 1000x130
Berita

Udhar Banda Karma di Sanur, 38 Karya Perupa Payangan Dialogkan Tradisi dan Modernitas

admin
13
×

Udhar Banda Karma di Sanur, 38 Karya Perupa Payangan Dialogkan Tradisi dan Modernitas

Sebarkan artikel ini
Img 20260918 Wa0248
banner 1000x130

DENPASAR, vonisnews.com – Pameran seni rupa kolektif bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” menghadirkan 38 karya seni lukisan dari para perupa Payangan. Pameran tersebut digelar di Santrian Art Gallery, Griya Santrian, Sanur, mulai 18 September hingga 31 Oktober 2026.

Pameran ini menjadi ruang bagi para perupa untuk menunjukkan perjalanan kreatif yang tidak terpaku pada satu corak. Tradisi, modernitas, abstraksi hingga seni patung hadir dalam satu ruang dan menciptakan percakapan visual mengenai perkembangan identitas seni Bali.

banner 1000x130

Ketua Himpunan Perupa Payangan, Made Dolar Astawa, mengatakan pameran tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan komunitas perupa Payangan.

Menurutnya, jika sebelumnya para perupa melakukan eksplorasi ke dalam melalui filosofi Bayu-dep-Karma, pameran di Sanur menjadi momentum untuk melangkah keluar sekaligus membuka ruang kreativitas yang lebih luas.

“Udhar Banda Karma merupakan upaya bersama untuk mengurai belenggu pakem, melonggarkan ruang kreativitas, dan mendobrak batas geografis demi masa depan seni rupa kami yang lebih terbuka,” ujar Made Dolar Astawa.

Keberagaman 38 karya yang ditampilkan justru menjadi kekuatan Himpunan Perupa Payangan. Sebagian karya tetap mempertahankan karakter tradisi, sementara karya lainnya mempertemukan estetika tradisional dengan pendekatan modern hingga bergerak menuju abstraksi.

Pameran tersebut juga mendapat dukungan dari Wakil Bupati Gianyar yang hadir membuka kegiatan. Selain itu, Santrian Art Gallery memberikan ruang bagi para perupa Payangan untuk memperluas jangkauan ekspresi dan mempertemukan karya mereka dengan publik yang lebih luas.

Kurator pameran, Dr. I Nyoman Suardina, melihat perpindahan lokasi dari Payangan ke Sanur bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan sebuah “perpindahan epistemik”.

Perpindahan tersebut dimaknai sebagai perjalanan dari ruang yang kuat dengan pakem tradisi menuju ruang dialog seni yang lebih terbuka.

Sanur sendiri memiliki sejarah panjang sebagai ruang perjumpaan berbagai pengaruh seni. Dalam konteks tersebut, kehadiran para perupa Payangan tidak semata-mata untuk mempertontonkan kemampuan teknis, tetapi juga membawa pertanyaan mendasar mengenai sejauh mana tradisi dapat berkembang tanpa kehilangan akarnya.

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan melalui upaya membebaskan kreativitas dari keterikatan pakem yang terlalu kaku. Tradisi tidak ditinggalkan, tetapi ditempatkan sebagai fondasi yang memungkinkan seniman bergerak lebih jauh.

Pada kelompok karya pertama, karakter estetika klasik Payangan masih terlihat kuat. Garis, detail, teknik dan karakter visual tradisional tetap menjadi bagian penting dalam karya.

Namun, tradisi tidak hanya dihadirkan sebagai bentuk pengulangan. Pada kelompok karya berikutnya, muncul perpaduan karakter pewayangan, lanskap dan simbol-simbol Bali dengan komposisi serta sapuan kuas yang lebih modern.

Eksplorasi kemudian bergerak semakin jauh menuju dunia abstraksi. Bentuk-bentuk figuratif mulai dilepaskan dan digantikan oleh permainan warna, tekstur, energi serta emosi.

Pada titik tersebut, pelepasan terhadap pakem bukan berarti memutus hubungan dengan akar budaya. Spiritualitas dan pengalaman Bali justru diterjemahkan melalui bahasa visual yang lebih bebas.

Eksplorasi juga hadir melalui karya seni patung. Kayu, batu hingga material lainnya tidak hanya digunakan untuk membentuk figur tradisional, tetapi dieksplorasi melalui bentuk, ruang, volume dan pendekatan yang lebih dinamis.

Keseluruhan karya akhirnya membentuk satu spektrum, mulai dari tradisi yang dijaga, tradisi yang ditafsirkan ulang, hingga tradisi yang diterjemahkan ke dalam bahasa seni kontemporer.

Owner Santrian Art Gallery, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, MBA, menyambut pameran tersebut sebagai pertemuan antara dua karakter geografis dan kultural Bali, yakni Payangan yang berada di kawasan pedalaman dan Sanur yang sejak lama dikenal sebagai ruang perjumpaan budaya.

Menurutnya, seni dapat menjadi jembatan yang mempertemukan kedua karakter tersebut. Merawat tradisi bukan berarti memenjarakan diri, melainkan membiarkannya tumbuh, bertransformasi dan tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi ruh pameran. Para perupa Payangan tidak sedang mempertentangkan tradisi dengan modernitas. Mereka justru memperlihatkan bahwa keduanya dapat berdialog dalam satu kanvas maupun karya tiga dimensi.

Pameran “Udhar Banda Karma” pada akhirnya bukan hanya tentang 38 karya seni. Pameran ini menjadi catatan perjalanan sebuah komunitas ketika mulai berani keluar dari zona nyaman.

Dari Payangan menuju Sanur, para perupa membawa tradisi sebagai akar, tetapi tidak menjadikannya sebagai rantai.

“Mereka mengurai belenggu, membuka ruang eksperimen dan mencoba melihat cakrawala baru seni rupa Bali—tanpa harus kehilangan identitas yang membentuk mereka,” tambah Gede Agung Sidharta Putra.

(Budi)

banner 1000x130 banner 1000x130
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *