Example floating
Example floating
banner 1000x130
Berita

Urgensi Edukasi Konseling HIV/AIDS bagi Remaja untuk Cegah Penyebaran dan Tekanan Psikologis

najibpabean
258
×

Urgensi Edukasi Konseling HIV/AIDS bagi Remaja untuk Cegah Penyebaran dan Tekanan Psikologis

Sebarkan artikel ini
Img 20250521 Wa0176
banner 1000x130

Dr. Anak Agung Ngurah Adhi Putra, M.Pd. (Dosen Negeri DPK di UPMI – Pegiat dan Peneliti ODHA di Bali)

Bali, Vonisnews.com – penyebaran infeksi HIV/AIDS di Indonesia terus mengalami peningkatan signifikan, tanpa mengenal batas wilayah, usia, atau status sosial. Data Kementerian Kesehatan RI per Maret 2021 mencatat jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS mencapai 558.618 kasus, yang terdiri atas 427.201 kasus HIV dan 131.417 kasus AIDS. Fenomena ini menjadi peringatan penting bagi semua kalangan, khususnya generasi muda.

banner 1000x130

Rendahnya edukasi terkait layanan konseling terhadap remaja yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) menjadi persoalan serius. Minimnya pengetahuan ini dapat menyebabkan stres, tekanan mental, serta stigma sosial yang memperburuk kondisi psikologis mereka. Oleh karena itu, perlu penguatan layanan edukatif yang menyentuh aspek moral, sosial, agama, kesehatan, dan pendidikan.

Konseling HIV/AIDS berfungsi untuk menangani permasalahan seputar infeksi virus ini, baik untuk ODHA maupun lingkungan sekitarnya. Karena penyebaran HIV sangat erat dengan perilaku berisiko, maka upaya penanggulangan harus mencakup pendekatan terhadap perilaku tersebut.

Kelompok yang paling rentan seperti pekerja seks, LGBT, waria, dan lain-lain sering menjadi fokus intervensi, namun perhatian besar juga harus diberikan pada remaja usia produktif.

Provinsi Bali menjadi salah satu daerah dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di Indonesia. Hingga September 2024, tercatat 31.361 kasus kumulatif, dengan penyebaran tertinggi di Denpasar, Badung, dan Buleleng. Usia produktif 20–29 tahun menyumbang sekitar 31,9% dari total kasus, menjadikan remaja sebagai kelompok paling rentan terhadap infeksi.

Fakta ini menunjukkan pentingnya perhatian dan tindakan nyata dalam upaya edukasi dan konseling. Kurangnya informasi dan sikap masa bodoh menjadi penyebab utama tingginya risiko infeksi di kalangan muda.

Keluarga adalah unit terkecil namun terpenting dalam menangkal penyebaran HIV/AIDS. Keluarga tidak hanya menjadi tempat pertama bagi anak untuk belajar, tetapi juga menjadi benteng moral dan sosial dalam menanamkan nilai-nilai positif serta mengarahkan perilaku sehat. Masyarakat juga memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan yang kondusif, ramah, dan bebas dari stigma terhadap ODHA.

Pemerintah bersama lembaga-lembaga terkait seperti Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), Dinas Kesehatan, BKKBN, serta organisasi sosial dan keagamaan telah melakukan berbagai program. Di antaranya adalah:

Penyuluhan melalui seminar, pelatihan, dan sosialisasi di sekolah-sekolah.

Pelayanan konseling dan tes sukarela (VCT).

Program terapi dan dukungan (CST), layanan infeksi menular seksual (IMS), serta pencegahan penularan dari ibu ke anak (PMTCT).

Meski belum ditemukan obat untuk menyembuhkan HIV, terapi Antiretroviral (ARV) memungkinkan ODHA menjalani hidup normal. Oleh karena itu, penting memastikan remaja mendapat akses edukasi dan layanan kesehatan yang memadai.

Penyebaran HIV/AIDS di kalangan remaja bukan hanya persoalan kesehatan, tapi juga sosial, pendidikan, dan budaya.

Diperlukan kerja sama semua pihak – pemerintah, keluarga, sekolah, lembaga keagamaan, dan masyarakat – untuk mengedukasi, mendampingi, dan melindungi remaja dari ancaman infeksi HIV/AIDS.

Konselor, guru, dan tenaga medis menjadi garda terdepan dalam memberi harapan serta membangun ketahanan mental dan sosial remaja Indonesia menuju masa depan yang sehat dan berdaya.(Budi)

banner 1000x130
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *