Example floating
Example floating
banner 1000x130
Berita

Hujatan di Tengah Bencana Banjir Bali: Sebuah Cermin Retaknya Solidaritas Sosial

admin
68
×

Hujatan di Tengah Bencana Banjir Bali: Sebuah Cermin Retaknya Solidaritas Sosial

Sebarkan artikel ini
Img 20250918 Wa0164
banner 1000x130

Oleh: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum.

Akademisi Universitas Dwijendra

banner 1000x130

 

Bali, Vonisnews.com – Bali selama ini dikenal sebagai pulau yang kaya dengan kearifan lokal dan nilai-nilai luhur. Ajaran Tri Hita Karana menekankan pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia dengan Tuhan (parhyangan), manusia dengan sesama (pawongan), serta manusia dengan alam (palemahan). Demikian pula falsafah Tat Twam Asi mengajarkan bahwa penderitaan orang lain sejatinya juga merupakan penderitaan kita sendiri.

Nilai-nilai budaya inilah yang selama berabad-abad menjadi fondasi sosial masyarakat Bali, melahirkan solidaritas, gotong royong, dan rasa welas asih dalam menghadapi berbagai situasi, termasuk bencana.

Namun, realitas di era digital menunjukkan fenomena yang berbeda. Saat bencana banjir melanda Bali, respon masyarakat tidak lagi selalu berupa empati dan dukungan. Di ruang-ruang digital, terutama media sosial, justru muncul komentar bernada hujatan, cibiran, bahkan ujaran kebencian.

Alih-alih memperkuat solidaritas, bencana sering dijadikan momentum untuk saling menyalahkan dan mengejek. Korban bencana kadang dituding tidak waspada, pemerintah dianggap lalai, bahkan ada yang mengaitkan bencana dengan karma buruk. Tidak jarang pula, situasi ini dimanfaatkan oleh sebagian tokoh untuk mencari panggung.

Fenomena ini mencerminkan pergeseran sikap sosial masyarakat. Jika pada masa lalu bencana menjadi ajang memperkuat kebersamaan, kini arus digital membuat opini publik cepat terpolarisasi. Ruang simpati yang seharusnya hadir justru tergantikan oleh ruang hujatan yang memperparah luka psikologis korban.

Hujatan di tengah bencana ini sekaligus menjadi cermin retaknya solidaritas sosial. Nilai luhur paras-paros sarpanaya (saling asah, asih, asuh) semakin terkikis oleh budaya instan dan emosional di media sosial. Dukungan moral dan empati tergantikan oleh sikap mudah menghakimi, sulit mengerti, dan abai pada rasa kemanusiaan.

Dengan demikian, bencana banjir di Bali tidak hanya menguji ketahanan fisik masyarakat dalam menghadapi alam, tetapi juga menguji kekuatan moral dalam menjaga persaudaraan dan solidaritas. Jika hujatan terus mendominasi, maka kita tidak hanya berhadapan dengan bencana ekologis, tetapi juga bencana sosial yang menggerus nilai budaya dan kemanusiaan.

(Budi)

banner 1000x130 banner 1000x130
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *