BALI, Vonisnews.com – Pemerintah Provinsi Bali terus mempercepat pembangunan Kawasan Turyapada Tower di wilayah Bali Utara sebagai proyek strategis yang diproyeksikan menjadi destinasi wisata berkelas dunia sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Buleleng.
Pemilihan lokasi pembangunan tower dilakukan berdasarkan kajian Tim Universitas Udayana (UNUD). Dari hasil kajian tersebut, lokasi Turyapada dinilai mampu menjangkau siaran televisi hingga minimal 85 persen wilayah Bali Utara. Kini, keberadaan tower bahkan telah memberikan jangkauan siaran hingga lebih dari 90 persen masyarakat Buleleng dan sebagian wilayah Jembrana.
Lahan pembangunan kawasan merupakan milik petani yang sebelumnya digunakan untuk budidaya bunga. Pemerintah menjelaskan bahwa jenis tanaman lain dinilai kurang cocok untuk ditanam di kawasan tersebut.
Total lahan yang dibebaskan mencapai 13,9 hektar dengan anggaran sebesar Rp63,4 miliar. Pada tahap pertama, pembebasan lahan seluas 6,6 hektar menelan biaya Rp22,4 miliar, sedangkan tahap kedua seluas 7,3 hektar dengan anggaran Rp41 miliar.
Proses pembebasan lahan disebut dilakukan sesuai ketentuan peraturan yang berlaku. Penentuan harga lahan dilakukan oleh lembaga independen, yakni Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP), serta melalui kesepakatan bersama warga pemilik lahan melalui musyawarah. Seluruh penggunaan anggaran negara dalam proses tersebut juga diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Pembangunan tahap pertama meliputi tower utama beserta sejumlah fasilitas penunjang seperti planetarium, restoran putar 360 derajat, sky walk, restoran statis, jembatan kaca, ruang konvensi, hingga area UMKM. Tahap pertama telah selesai dengan total anggaran mencapai Rp349,3 miliar.
Saat ini, pembangunan tahap kedua masih berlangsung, meliputi pemasangan interior, furnitur, penataan kawasan, pembangunan fasilitas gondola, serta akses jalan masuk. Tahap kedua ditargetkan selesai pada November 2026 dengan kebutuhan anggaran sebesar Rp295,7 miliar.
Dengan demikian, total anggaran pembangunan Kawasan Turyapada Tower mencapai Rp645 miliar.
Selain menjadi pusat transmisi siaran televisi bagi sekitar 30 stasiun televisi nasional, Turyapada Tower juga diharapkan mampu mengurangi pembangunan tower-tower terpisah milik masing-masing stasiun televisi. Ke depan, seluruh stasiun televisi cukup bekerja sama melalui sistem sewa dengan Pemerintah Provinsi Bali.
Pemerintah juga menargetkan Kawasan Turyapada Tower menjadi ikon wisata baru Indonesia yang mampu bersaing dengan menara dunia seperti Menara Eiffel di Prancis, Tokyo Tower di Jepang, hingga CN Tower di Kanada.
Keberadaan kawasan ini diproyeksikan memberikan dampak ekonomi luas bagi wilayah Bedugul, Wanagiri, dan Bali Utara secara umum. Pengelolaan kawasan nantinya akan dilakukan secara profesional oleh pihak ketiga guna memaksimalkan pendapatan daerah melalui sektor pariwisata, hotel, restoran, dan layanan kawasan.
Pemerintah Provinsi Bali memperkirakan investasi pembangunan kawasan dapat kembali dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun melalui pendapatan pengelolaan kawasan dan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Tak hanya fokus pada pembangunan fisik, proyek ini juga dipastikan melibatkan masyarakat lokal. Warga sekitar akan membentuk koperasi dan UMKM untuk berjualan di kawasan wisata tersebut. Selain itu, anak-anak warga lokal akan diprioritaskan mengikuti pendidikan dan pelatihan sesuai kebutuhan kompetensi kerja di kawasan Turyapada Tower.
Pemerintah menegaskan tenaga kerja yang saat ini dibutuhkan dalam pembangunan kawasan juga direkrut dari warga lokal sehingga masyarakat sekitar tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut merasakan manfaat ekonomi secara langsung.
Sebagai bentuk perhatian terhadap masyarakat sekitar, sekitar 40 rumah warga lokal juga akan direnovasi menjadi rumah layak huni dengan pembiayaan penuh dari APBD Provinsi Bali. Pemerintah Provinsi Bali juga berencana membangun pura dan wantilan sesuai permohonan Desa Adat Merta Sari, Desa Pegayaman, melalui APBD Perubahan Tahun 2026.
(Budi)
















