Denpasar, Vonisnews.com – Kekhawatiran terhadap arah pembangunan, tata ruang, dan keberlangsungan kawasan suci serta ekologis di Bali melahirkan gerakan moral baru bernama Forum Pemerhati Pembangunan Bali (For Hati Bali).
Forum yang mengusung tagline “Rakyat Bersama Memantau Pembangunan Bali” tersebut resmi menyatakan dukungan terhadap Panitia Khusus (Pansus) TRAP DPRD Bali dan berencana menggelar audiensi langsung di Kantor DPRD Bali, Renon, pada 3 Juni 2026 mendatang.
Audiensi dijadwalkan berlangsung pukul 10.00 WITA dan diperkirakan dihadiri sekitar 200 peserta dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, akademisi, mahasiswa, hingga komunitas masyarakat sipil.
Koordinator For Hati Bali, DR. Anak Agung Made Sudarsa, SE, SH, MH, mengatakan forum tersebut lahir dari kegelisahan publik terhadap situasi pembangunan Bali yang dinilai semakin menjauh dari prinsip keberlanjutan.
“Forum ini lahir sebagai gerakan moral dan sosial untuk ikut mengawal pembangunan Bali agar tetap berpijak pada kelestarian alam, budaya, spiritualitas, dan kepentingan masyarakat Bali secara berkelanjutan,” ujar Anak Agung Made Sudarsa.
Ia menegaskan, kehadiran For Hati Bali ke DPRD Bali merupakan bentuk dukungan moral terhadap kerja Pansus TRAP dalam mengawal tata ruang dan perlindungan kawasan strategis di Bali.
Menurutnya, pengawasan terhadap pembangunan harus dilakukan secara bersama-sama agar tidak mengorbankan kawasan suci, lingkungan hidup, maupun hak masyarakat lokal.
“Kami ingin upaya penyelamatan alam Bali, khususnya kawasan strategis seperti Pulau Serangan, terus dikawal secara konsisten oleh pemerintah dan masyarakat,” katanya.
Gerakan ini disebut melibatkan berbagai tokoh penting di Bali. Berdasarkan data peserta audiensi, sejumlah tokoh spiritual, akademisi, hingga mantan pejabat nasional dipastikan ikut hadir.
Beberapa nama yang tercatat antara lain tokoh spiritual Ida Shri Bhagawan Yogananda, mantan anggota MPR RI utusan Bali Jro Gede Sudibya, Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, serta Prof. Dr. I Gede Sutarya.
Selain itu, perwakilan masyarakat Pulau Serangan, pengempon pura di kawasan PT Jimbaran Hijau, hingga belasan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai universitas di Bali juga dikabarkan akan turut bergabung dalam audiensi tersebut.
Kehadiran lintas elemen ini menunjukkan meningkatnya perhatian publik terhadap isu tata ruang, lingkungan, dan arah pembangunan Bali di tengah masifnya investasi dan pembangunan pariwisata.
For Hati Bali berharap audiensi tersebut dapat menjadi ruang dialog terbuka antara masyarakat dan DPRD Bali dalam merumuskan pembangunan yang lebih berpihak pada keberlanjutan alam, budaya, dan masyarakat lokal Bali.
(Budi)
















