Denpasar, vonisnews.com – Rahina Tumpek Uye yang jatuh pada Sabtu, 5 September 2026, menjadi momentum bagi Gubernur Bali Wayan Koster untuk kembali meneguhkan komitmen dalam menjaga warisan adiluhung budaya Bali sekaligus memperkuat nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi Loka Bali.
Tumpek Uye bukan sekadar perayaan adat dan keagamaan, tetapi memiliki makna penting dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga keharmonisan kehidupan, termasuk hubungan manusia dengan alam dan seluruh makhluk hidup.
Gubernur Bali Wayan Koster mendorong agar nilai-nilai yang terkandung dalam Tumpek Uye terus dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurutnya, pelestarian tradisi harus dilakukan secara nyata agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman, perubahan generasi, maupun arus modernisasi.
Pada momentum tersebut, Koster juga menginisiasi gerakan perayaan Rahina Tumpek Uye bersama masyarakat. Gerakan ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi sekaligus memperkenalkan kembali nilai, manfaat, serta makna Tumpek Uye, khususnya kepada generasi muda Bali.
Upaya tersebut dinilai penting agar generasi muda tidak hanya mengenal Tumpek Uye sebagai sebuah hari perayaan, tetapi juga memahami filosofi dan pesan kehidupan yang terkandung di dalamnya.
“Jangan sampai perayaan Tumpek Uye yang adiluhung lambat laun hilang ditelan zaman karena dampak peralihan generasi dan modernisasi,” menjadi semangat dalam pelaksanaan gerakan tersebut.
Selain penguatan kebudayaan, momentum Tumpek Uye juga dimanfaatkan Gubernur Koster untuk memperlihatkan perhatian terhadap persoalan pangan masyarakat Bali.
Kedaulatan pangan menjadi salah satu hal yang terus didorong, termasuk memastikan kebutuhan pangan strategis seperti cabai dapat terpenuhi.
Kebutuhan cabai mendapat perhatian khusus karena komoditas tersebut merupakan salah satu kebutuhan penting masyarakat sekaligus memiliki pengaruh terhadap stabilitas harga pangan.
Koster menempatkan upaya pemenuhan kebutuhan pangan sebagai bagian dari langkah mewujudkan kedaulatan pangan Bali. Penguatan produksi pangan di daerah diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar Bali serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Dengan demikian, peringatan Tumpek Uye tidak hanya menjadi momentum pelestarian tradisi, tetapi juga dapat dihubungkan dengan gerakan nyata menjaga alam, membangun ketahanan pangan, serta memperkuat kesejahteraan masyarakat.
Semangat tersebut sejalan dengan nilai Sad Kerthi Loka Bali yang menempatkan keseimbangan dan keharmonisan sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Pelestarian budaya dan pembangunan sektor pangan pun diharapkan berjalan beriringan untuk menjaga Bali secara berkelanjutan.
(Budi)
















