DENPASAR, Vonisnews.com – Sekretaris Advokasi Rakyat Untuk Nusantara (ARUN) Bali, Anak Agung Gde Agung Aryawan atau yang akrab disapa Gung De, menyatakan dukungan penuh terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai sebagai langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak sekaligus menekan angka stunting di Indonesia.
Meski demikian, Gung De menegaskan bahwa pelaksanaan program tersebut harus terus dievaluasi dan diawasi secara ketat agar tepat sasaran, transparan, serta terbebas dari berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan masyarakat.
Menurutnya, kritik terhadap program pemerintah merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun kritik harus disampaikan secara konstruktif dan berdasarkan fakta, bukan berubah menjadi serangan terhadap pribadi pemimpin atau pihak tertentu.
“Dalam sistem demokrasi, kritik itu sehat dan diperlukan sebagai bentuk pengawasan publik. Tetapi kritik harus berbasis data dan fakta. Yang dikritisi adalah kebijakan atau pelaksanaannya, bukan menyerang pribadi seseorang,” ujar Gung De.
Ia menjelaskan bahwa konsep pemberian makanan bergizi kepada anak sekolah bukanlah hal baru. Berbagai negara telah menerapkan program serupa dengan hasil yang terbukti positif dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan generasi muda.
Program tersebut, kata dia, telah dijalankan di India melalui Mid-Day Meal, Brasil melalui Program Nasional Pangan Sekolah (PNAE), serta Jepang melalui program makan siang sekolah atau Kyushoku.
“Tujuannya sama, yaitu meningkatkan kualitas gizi anak, mencegah stunting, serta membantu meningkatkan konsentrasi dan prestasi belajar siswa. Karena itu secara konsep MBG sudah berada di jalur yang benar dan layak dilanjutkan,” katanya.
Meski mendukung penuh keberlanjutan program tersebut, Gung De menilai pemerintah perlu melakukan evaluasi secara berkala, terutama terkait penggunaan anggaran, efektivitas distribusi, serta ketepatan sasaran penerima manfaat.
Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari besarnya anggaran yang digelontorkan, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh anak-anak yang membutuhkan.
“Program ini harus dipastikan benar-benar sampai kepada anak-anak yang membutuhkan. Jangan sampai ada kebocoran anggaran atau distribusi yang tidak tepat sasaran,” tegasnya.
ARUN Bali juga menyoroti pentingnya penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan penyimpangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Gung De menegaskan bahwa program yang baik dapat kehilangan manfaat dan kepercayaan publik apabila dirusak oleh praktik korupsi, mark up pengadaan, maupun penyalahgunaan anggaran.
“Kalau ada oknum yang bermain dalam anggaran, pengadaan, atau distribusi, harus diproses hukum tanpa pandang bulu. Tidak peduli apakah itu ASN, vendor, maupun pejabat. Jika ada bukti, hukum harus ditegakkan. Itu yang akan membangun kembali kepercayaan publik,” ujarnya.
Di tingkat daerah, ia menilai implementasi MBG di Kota Denpasar masih perlu ditingkatkan karena masih terdapat sejumlah sekolah yang belum sepenuhnya merasakan manfaat program tersebut. Selain itu, kasus stunting yang masih ditemukan di wilayah Denpasar menunjukkan perlunya perluasan cakupan program secara bertahap dan berkelanjutan.
Menurutnya, pola bantuan sembako yang selama ini diberikan kepada keluarga terdampak sebaiknya mulai diarahkan menuju pemenuhan kebutuhan gizi yang lebih terukur melalui Program Makan Bergizi Gratis.
“Kalau MBG bisa berjalan konsisten dan menjangkau lebih banyak anak, manfaatnya akan jauh lebih besar dibanding bantuan yang sifatnya sesaat. Anak-anak mendapatkan asupan gizi yang terukur dan berkelanjutan,” katanya.
Lebih lanjut, Gung De menilai program tersebut tidak hanya memberikan manfaat kesehatan, tetapi juga memiliki dampak sosial dan edukatif. Melalui kebiasaan makan bersama dengan menu yang sama, anak-anak dapat belajar mengenal pola makan sehat sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya konsumsi buah, sayuran, dan makanan bergizi lainnya.
“Anak-anak akan lebih termotivasi untuk makan makanan sehat ketika dilakukan bersama-sama. Ini bukan hanya soal mengenyangkan perut, tetapi juga membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini untuk menciptakan generasi yang lebih berkualitas di masa depan,” pungkasnya.
ARUN Bali menegaskan dukungannya terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Namun, organisasi tersebut juga meminta pemerintah pusat maupun daerah untuk terus melakukan evaluasi, memperluas jangkauan penerima manfaat, serta menindak tegas setiap bentuk penyimpangan yang berpotensi merusak citra program dan merugikan masa depan anak-anak Indonesia.
(Budi)
















