Denpasar Bali, Vonisnews.com – Gubernur Bali Wayan Koster mengambil langkah tegas demi menciptakan Pulau Dewata yang damai, aman, dan nyaman. Pada momentum Hari Purnama yang sakral bagi masyarakat Bali, dari Jaya Sabha – Rumah Jabatan Gubernur Bali di Denpasar – Koster bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) mendeklarasikan penolakan terhadap segala bentuk organisasi yang meresahkan dan merusak ketenteraman masyarakat.
Deklarasi tersebut tidak hanya bersifat simbolis. Turut hadir dan mendukung langkah tegas ini adalah Ketua DPRD Provinsi Bali, Pangdam IX/Udayana, Kapolda Bali, Kajati Bali, Ketua Pengadilan Tinggi Denpasar, Danrem 163/Wira Satya, dan Kepala BIN Daerah Bali.
Kepala Kejaksaan Tinggi Bali, Ketut Sumedana- yang juga mantan juru bicara Kejagung dan eks penyidik KPK – menegaskan bahwa hukum akan ditegakkan tanpa pandang bulu. “Bali harus aman dan nyaman untuk ditinggali dan dikunjungi. Tidak ada yang kebal hukum,” tegasnya dalam unggahan Instagram.
Menurut Sumedana, Bali sebagai pusat pariwisata dunia harus bebas dari kekerasan dan aksi kriminalitas berkedok ormas. Ia menekankan bahwa siapa pun yang menciptakan ketakutan melalui premanisme akan berhadapan langsung dengan aparat penegak hukum. “Bali harus tetap ajeg, damai, dan nyaman. Itu harga mati,” ujarnya.
Kapolda Bali, Irjen Pol Daniel Adityajaya, juga menegaskan bahwa Polri tidak akan segan membubarkan organisasi yang terbukti menciptakan keresahan. “Kalau ada yang melanggar hukum, akan kami proses. Kalau perlu dibubarkan, kami bubarkan,” katanya.
Sikap tegas ini kembali ditegaskan Gubernur Bali Wayan Koster pada Senin, 12 Mei 2025. Ia menyatakan bahwa Bali tidak membutuhkan organisasi kemasyarakatan (ormas) yang berkedok menjaga ketertiban tetapi justru menebar kekerasan dan intimidasi.
“Kehadiran ormas seperti itu justru merusak citra Bali sebagai destinasi wisata dunia yang aman dan nyaman,” kata Koster. Ia menambahkan bahwa tindakan tegas terhadap ormas semacam ini penting untuk menciptakan kehidupan masyarakat Bali yang tertib, damai, dan sejahtera.
Gubernur Koster juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu menjaga keamanan dan ketertiban di Bali dengan semangat kearifan lokal: gilik-saguluk, para-sparo, salunglung-sabayantaka, sarpana ya – seia sekata, seiring sejalan, dan bergotong royong membangun Bali secara niskala-sakala.(Budi)
















