Surabaya, Vonisnews.com – Kelas Personal Development bertajuk Mindfulness and Stress Management sukses digelar di Gucci Art Cafe, Jalan Bali 3, Surabaya, pada Sabtu, 14 Februari 2026. Kegiatan ini menghadirkan Ricky Sanjaya sebagai pembicara utama, seorang praktisi pengembangan diri yang dikenal melalui pengalaman hidupnya yang inspiratif.

Dalam pemaparannya, Ricky menegaskan bahwa dirinya bukan seorang pengajar yang hanya mengandalkan teori, melainkan seorang praktisi yang belajar dari perjalanan hidupnya sendiri, termasuk berbagai kegagalan dan tantangan yang pernah ia alami.
“Saya bukan guru dengan banyak teori, tetapi saya seorang praktisi yang mengalami sendiri jatuh bangun kehidupan. Dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, serta buku-buku yang saya baca, saya menyimpulkan bahwa kebahagiaan itu bukan dicari di luar, tetapi ditemukan di dalam diri,” ujarnya di hadapan peserta.
Kelas ini dibagi menjadi tiga modul utama yang dirancang untuk membantu peserta memahami diri dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Modul pertama membahas hubungan dengan orang lain, terutama bagaimana membangun interaksi yang sehat dan efektif. Ricky menekankan pentingnya memahami karakter, pola komunikasi, serta empati agar hubungan sosial dan profesional dapat berkembang secara positif.
Modul kedua mengulas tentang cara kerja pikiran. Peserta diajak memahami bagaimana pikiran memengaruhi persepsi, emosi, dan keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kesadaran tersebut, seseorang dapat lebih bijak dalam mengelola stres, menentukan tujuan hidup, dan menjaga keseimbangan mental.
Modul ketiga menjadi inti dari keseluruhan materi, yaitu memahami konsep kebahagiaan yang berkelanjutan. Ricky menjelaskan bahwa banyak orang mengaitkan kebahagiaan dengan pencapaian eksternal, seperti memiliki barang, mencapai target karier, atau melakukan perjalanan.
“Setelah kita mencapai sesuatu, kita akan memikirkan target berikutnya. Kebahagiaan itu datang dan pergi. Karena itu saya menyimpulkan bahwa kebahagiaan sejati tidak berasal dari luar, tetapi sudah ada di dalam diri kita. Tantangannya adalah bagaimana kita menemukannya,” jelasnya.
Dalam sesi tersebut, Ricky juga memperkenalkan konsep sederhana tentang kebahagiaan realita, yakni dibagi harapan. Ia menjelaskan bahwa semakin tinggi ekspektasi yang tidak sebanding dengan harapan, maka semakin besar potensi kekecewaan.
Konsep ini dinilai relevan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan rumah tangga. Ricky mencontohkan bahwa ekspektasi tinggi terhadap pasangan sering kali menjadi sumber konflik. Dengan mengurangi ekspektasi berlebihan dan belajar menerima realita, seseorang dapat mencapai kebahagiaan yang lebih stabil.
Selain penyampaian materi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi tanya jawab interaktif yang memungkinkan peserta membahas berbagai persoalan pribadi terkait stres, relasi, dan pencarian makna hidup. Meski demikian, Ricky menegaskan bahwa pembahasan kasus spesifik dilakukan secara interaktif di luar modul utama.
Melalui kelas ini, Ricky berharap pengalaman hidupnya dapat menjadi pembelajaran bagi orang lain agar mampu menjalani kehidupan dengan lebih sadar, bijak, dan bahagia tanpa harus melalui kegagalan yang sama.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari peserta yang antusias memperdalam pemahaman tentang mindfulness dan manajemen stres, sekaligus menemukan kebahagiaan yang lebih autentik dan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
(Redaksi: Devi)
















