Denpasar, Vonisnews.com – Ogoh-ogoh Banjar Eka Dharma, Desa Sumerta Kauh, Kecamatan Denpasar Timur akhirnya dinilai oleh tim juri pada Senin (23/2/2026). Karya seni yang dibuat oleh Sekaa Truna Truni (STT) Banjar Eka Dharma tahun ini mengusung tema “Kala Tan Hana Niti”.
Tema tersebut sarat makna filosofis. “Kala” diibaratkan sebagai waktu, “Tan Hana” berarti tidak ada, dan “Niti” dimaknai sebagai tingkah laku yang baik dan bijaksana. Secara keseluruhan, Kala Tan Hana Niti menggambarkan kondisi zaman sekarang yang mulai dirasakan kehilangan nilai-nilai kebaikan dan kebijaksanaan.
Ketua STT Banjar Eka Dharma, Kadek Wanda, menjelaskan bahwa proses pembuatan ogoh-ogoh ini memakan waktu kurang lebih tiga bulan. Dalam prosesnya, para anggota STT bekerja secara gotong royong, mulai dari perancangan konsep, pembentukan rangka, hingga tahap finishing.
“Ogoh-ogoh karya STT Banjar Eka Dharma dari awal pembuatan hingga selesai memakan waktu sekitar tiga bulan dengan biaya yang dihabiskan mencapai puluhan juta rupiah,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh proses pengerjaan dilakukan dengan penuh semangat kebersamaan, sebagai wujud pelestarian tradisi dan kreativitas generasi muda di lingkungan banjar.
Sementara itu, Kelian Banjar Eka Dharma, Komang Nurjaya, menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kerja keras para STT dalam menghasilkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki pesan moral yang mendalam.
Menurutnya, apapun hasil dari penilaian tim juri, seluruh pihak tetap harus bersyukur. Penilaian tersebut diharapkan menjadi motivasi untuk terus berkarya dan berinovasi dalam menciptakan ogoh-ogoh yang lebih baik di masa mendatang.
“Apapun hasil penilaiannya, tetap kita syukuri. Bagus atau tidak dalam penilaian, itu menjadi dukungan semangat agar ke depan bisa terus berkarya dalam pembuatan ogoh-ogoh menyambut momen pengerupukan,” tambahnya.
Penilaian ogoh-ogoh ini menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi, khususnya pada momen Pengerupukan, di mana ogoh-ogoh diarak sebagai simbol pembersihan diri dan lingkungan dari unsur-unsur negatif. Tradisi ini sekaligus menjadi ruang ekspresi seni dan kreativitas generasi muda Bali yang terus berkembang dari tahun ke tahun.
(Budi)
















