Example floating
Example floating
banner 1000x130
Berita

Tutur Ayu, Kolaborasi Tiga Seniman Bali Pamerkan Karya Seni Rupa di Griya Santrian Art Gallery

admin
38
×

Tutur Ayu, Kolaborasi Tiga Seniman Bali Pamerkan Karya Seni Rupa di Griya Santrian Art Gallery

Sebarkan artikel ini
Img 20260306 Wa0231
banner 1000x130

DENPASAR, Vonisnews.com – Tiga seniman Bali yang juga dikenal sebagai pendidik seni berkolaborasi menggelar pameran seni rupa bertajuk “Tutur Ayu” di Griya Santrian Art Gallery, Sanur, Denpasar, Jumat (6/3/2026). Pameran ini menampilkan 18 karya lukisan dari tiga perupa, yakni I Ketut Marra, I Wayan Santrayana, dan I Gede Budiartha.

Ketiganya merupakan bagian dari Kelompok Soko Guru, sebuah komunitas seniman yang memiliki latar belakang sebagai pendidik seni. Meski telah memasuki masa purna tugas sebagai guru, mereka tetap aktif berkarya dan berkontribusi dalam dunia seni rupa.

banner 1000x130

Pengelola Griya Santrian Art Gallery, Dollar Astawa, menjelaskan bahwa pameran ini menjadi ruang ekspresi sekaligus pengabdian bagi para seniman yang telah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan seni.

“Ketiga seniman ini merupakan figur yang telah menyelesaikan tugas sebagai pendidik di institusi formal, namun tetap menjaga semangat berkarya melalui seni rupa,” ujarnya.

Penulis sekaligus pemerhati seni, I Made Susanta Dwitanaya, menyampaikan bahwa pameran “Tutur Ayu” secara resmi dibuka oleh Putri Suastini Koster dan akan berlangsung cukup lama, yakni mulai 6 Maret hingga 30 April 2026.

Menurutnya, pameran ini lahir dari perjalanan panjang pengabdian para seniman yang tidak hanya berkarya, tetapi juga menanamkan nilai pengetahuan kepada generasi muda selama bertahun-tahun.

Dalam proses pengabdian tersebut, terdapat jejak-jejak sunyi yang tidak selalu tertulis, namun tetap hidup melalui karya seni, nilai kebijaksanaan, serta ketulusan dalam berbagi pengetahuan.

Berangkat dari keyakinan bahwa guru yang baik adalah pelaku yang baik, ketiga seniman yang tergabung dalam kelompok Soko Guru menghadirkan pameran bersama sebagai bentuk keberlanjutan pengabdian mereka.

Istilah Soko Guru sendiri memiliki makna sebagai tiang penyangga utama. Dalam konteks ini, guru dimaknai sebagai fondasi pengetahuan, penutur nilai, penjaga rasa, sekaligus pengemban kebijaksanaan melalui karya seni.

“Soko Guru menjadi wadah bersama bagi ketiga seniman ini dalam pengabdian, menjaga nilai pengetahuan dan kebijaksanaan yang berakar kuat pada budaya,” ungkapnya.

Judul pameran “Tutur Ayu” dipilih sebagai simbol bahwa seni merupakan bahasa yang terus menyampaikan pesan, bahkan ketika seorang guru telah meninggalkan ruang kelas.

“Tutur Ayu bermakna bahwa setiap karya yang dihadirkan berupaya membawa pesan serta petuah yang sarat moralitas dan kebijaksanaan bagi generasi masa kini,” jelasnya.

Dalam pameran ini, masing-masing seniman menampilkan karakter karya yang berbeda. I Ketut Marra dikenal konsisten mengolah berbagai medium seni, mulai dari seni lukis hingga seni grafis yang dahulu dikenal sebagai reklame. Karya-karyanya memperlihatkan kematangan artistik melalui eksplorasi garis, warna, tekstur, serta komposisi yang kuat.

Tema yang diangkat banyak merepresentasikan alam dan budaya Bali. Namun, karya-karya tersebut tidak sekadar merekam realitas, melainkan menghadirkan refleksi estetik sekaligus kritik sosial budaya.

Sementara itu, I Wayan Santrayana menghadirkan karya dengan karakter figur dan objek yang deformatis. Gaya ini menjadi bahasa visual khas dalam menggambarkan dinamika sosial dan budaya masyarakat Bali.

Melalui deformasi bentuk, ia menyampaikan ekspresi visual yang kuat sekaligus pesan kritis mengenai hubungan manusia dengan alam, perubahan sosial budaya, hingga dimensi spiritualitas.

Berbeda dengan keduanya, I Gede Budiartha lebih menonjolkan kecenderungan abstraksi dalam karya-karyanya. Komposisi warna, gestur garis, serta ekspresi visual menjadi kekuatan utama dalam lukisan-lukisannya.

Meski tampak abstrak, karya tersebut tetap menyimpan representasi objek yang dapat dikenali. Melalui pendekatan ini, ia mengangkat tema tentang rasa serta dinamika kehidupan manusia.

Karya-karya dalam pameran “Tutur Ayu” tidak hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi masyarakat sebagai pewaris kebudayaan Bali yang terus berkembang mengikuti zaman.

Di tengah arus perubahan, pameran ini menjadi pengingat bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari kebisingan, melainkan dari ketekunan dalam merawat nilai.

Melalui pameran ini pula terlihat semangat dan gairah ketiga seniman tersebut dalam menjalankan kehidupan sebagai perupa yang berlatar belakang pendidik.

Kesadaran akan swadarma atau kewajiban mendidik tidak berhenti ketika mereka pensiun dari institusi formal. Kini, ketiganya tetap menjalankan peran sebagai guru bagi masyarakat, bukan lagi di ruang kelas, melainkan melalui karya seni yang lahir dari pengalaman batin yang semakin matang dan bijaksana.

(Budi)

banner 1000x130 banner 1000x130
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *