SURABAYA, Vonisnews.com – Momentum Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2026 dipastikan akan menjadi panggung besar bagi para pengemudi ojek online (ojol) di Jawa Timur. Gerakan Rakyat Transportasi Online (GRANAT) Jatim menyatakan siap menggelar aksi massal sebagai bentuk penagihan janji pemerintah yang dinilai belum terealisasi hingga saat ini.
Aksi ini merupakan lanjutan dari gerakan serempak yang sebelumnya telah dideklarasikan di berbagai daerah pada tahun lalu. Ribuan driver, baik roda dua maupun roda empat, dipastikan akan turun ke jalan membawa aspirasi yang selama ini belum mendapat kepastian.
Presidium GRANAT Jatim, Tito Ahmad, menegaskan bahwa aksi pada 20 Mei bukan sekadar demonstrasi biasa, melainkan titik penting dalam perjuangan panjang para pengemudi ojol.
“Ini bukan sekadar aksi, ini adalah momentum penagihan janji. Kami ingin pemerintah, khususnya Gubernur Jawa Timur, benar-benar hadir dan memperhatikan nasib para driver ojol,” tegas Tito.
Menurutnya, hingga kini para pengemudi ojol masih menghadapi berbagai persoalan klasik, mulai dari belum dihapuskannya sistem zona merah secara menyeluruh hingga ketidakjelasan regulasi yang mengatur transportasi online. Kondisi tersebut dinilai membuat kesejahteraan driver jauh dari harapan.
Senada dengan itu, Presidium GRANAT lainnya, Puji Waluyo, menyebut bahwa aksi tahun ini tetap mengusung lima tuntutan utama yang dianggap sebagai “harga mati” bagi para driver.
Kelima tuntutan tersebut meliputi kenaikan tarif pengantaran penumpang, penetapan tarif bersih sesuai SK Gubernur Jawa Timur yakni Rp2.000 untuk roda dua dan Rp3.800 untuk roda empat, penerbitan regulasi pengantaran barang dan makanan, percepatan penerbitan Undang-Undang Transportasi Online, serta penghapusan sistem zona merah tanpa syarat agar dapat diakses seluruh driver.
Selain itu, massa aksi juga menyatakan penolakan terhadap skema koperasi yang dinilai berpotensi menambah beban bagi para pengemudi.
“Lima poin ini bukan sekadar tuntutan, tapi kebutuhan mendesak demi keberlangsungan hidup para driver,” ujar Puji.
Ia menambahkan, aksi ini membawa semangat kolektif dengan tema “Bergerak Serempak Berdampak”, yang diharapkan mampu mendorong perubahan nyata bagi kesejahteraan para ojol.
Di sisi lain, kritik juga diarahkan kepada pembuat kebijakan di tingkat pusat, khususnya legislatif. Para driver menilai lambannya pembahasan Undang-Undang Transportasi Online menjadi bukti kurangnya keberpihakan terhadap sektor yang telah menjadi tulang punggung ekonomi jutaan masyarakat selama lebih dari satu dekade.
Jika tuntutan kembali diabaikan, para pengemudi memperingatkan bahwa gelombang aksi yang lebih besar berpotensi terjadi di masa mendatang. Bagi mereka, perjuangan ini bukan lagi sekadar aspirasi, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup.
Aksi 20 Mei 2026 diprediksi akan menjadi salah satu mobilisasi terbesar komunitas ojol dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menjadi ujian bagi pemerintah dalam merespons tuntutan yang telah lama disuarakan.
(Redaksi: Devi)
















